Selamat Hari raya

Selamat hari raya: Catatan paling panjang yang akan saya buat selama menulis di facebook, tak perlu dibaca, cukup maafkan saya lahir bathin, karena ini adalah malam takbir idulfitri yang campur aduk rasanya.

Ribuan tahun dalam sejarah kenangan, lebaran adalah satu moment yang tak bisa dilupakan oleh siapa pun yang merayakan lebaran. setiap tahun selalu berjumpa dengan suka cita atau pun rasa haru tak terhingga, namun tahun ini, saya hanya bisa menangis di kejauhan. tak bisa menjangkau ayah ibu, juga adik saya. Demikian juga saya tak bisa bersenda gurau dengan ema dan mamang, mertua saya juga ponakan-ponakan di Indramayu.

Sejak saya dilahirkan, hingga hari ini, sudah lewat separuh hayat, saat hari raya adalah hari berjumpanya silsilah dari para leluhur hinga generasi hari ini.

Apakah Bahagia dan bersuka cita dalam lebaran 2020 ini? saya tak bisa mengatakan apa rasanya, karena air mata berjatuhan saat meulis ini di meja kerja pabrik paper bag saya di Yogyakarta.

SURGANA MENGUCAPKAN: SELAMAT HARI RAYA

“Mah, kami tak bisa pulang dan tak mudik, karena lebih aman demikian kata orang-orang yang berkuasa, juga kata dokter,” demikian saya menghubungi beberapa hari lalu.

Mamah, sebenarnya tak suka video call, namun belakangan ia meminta keponakan saya menghidupkan kembali smartphonenya dan mengaktifkan jaringan data, agar bisa video call dengan kami yang di jogjakarta.

Memandangnya dari kejauhan, dengan rautnya yang semakin sepuh, membuat saya teriris rasanya ingin pulang, meski tak bisa memeluknya.

“Teu nanaon, ulah balik,” kata mamah. “Moga-moga penyakitna geura diangkat ku gusti Allah.”

Selamat hari raya: hari raya kerinduan

Hari raya 2020 adalah hari raya kerinduan, yang tak bisa dibayar dengan apa pun bahkan tak bisa ditebus dengan tulisan paling panjang sekali pun.

Cerita macet tahun ini tidak ada. tak ada yang mudik

Kerinduan dalam puisi-puisi cinta yang pernah saya baca, dari kahlil gibran hingga umruul qais, tak mempan menggambarkan betapa terlukanya hati kami, yang tak bisa berjumpa dengan orang tua.

Ini seperti di neraka, kata saya kepada neng Aan Faridah suatu hari saat kami sedangn melintasi jalanan sepi di yogyakarta.

Hotel mewah dan murah, tapi tak laku, uang melimpah tak bisa digunakan untuk belanja, karena uang tak laku dipakai di pusat perbelanjaan. Semua tutup.

Percayalah, saat anda masih bisa melakukan banyak hal dan bisa berjumpa, bercengkrama, bersalaman bahkan berpelukan, itu lebih bernilai hari ini, dibanding apa pun.

Malam ini, adalah malam hari raya, selamat hari raya, merayakannya di rumah saja. Bertakbir hanya bersama keluarga dan besok sholat ied pun hanya di ruang tamu.

Apakau kau tak sedih membaca cerita itu semua dan dialamai oleh semua orang di nyaris seluruh dunia. Semua orang Bekerja di rumah.

Baca: Work From Home: Kerja di Rumah

Akhirnya, saya bisa merasakan kerinduan yang dalam, saat hari raya tak pulang berjumpa dengan ayah ibu, juga ayah ibu mertua. Hanya bisa mengucapkan selamat hari raya idulfitr 1441 H via videocall atau pun whatapp.

Mengapa sangat sedih, saya tidak tahu. Mungkin kesadaran genetis saya terluka karena dengan terpaksa tak bisa pulang demi keselamatan kami semua, agar bisa bertahan untuk beberapa tahun ke depan.

Selamat merayakan kesunyian dalam hari raya yang gegap gempita di dada, menderas air mata mencurahkan rindu dalam selembar layar kaca tak lebih besar dari telapak tangan kita.

“Mahhhh…..,” seru saya saat adik saya, Lestari, dia tak pulang, karena sedang kuliah lagi, memberikan hapenya yang sedang video call dengan mamah di tangerang sana.

Bukan terobati kerinduan, saya malah tambah sesak dan melanjutkan tulisan ini dengan bergetar. Penuh kecamuk.

Doa selamat hari Raya yang berbeda

Saya sudah tidak berdoa, mungkin sejak dua tahun lalu atau malah lebih lama lagi, malam ini saya berdoa, sekali saja,

“Ya Allah, Wahai Engkau yang Maha Kuasa atas ruh dalam tubuh manusia, wahai Allah Tuhan semsta raya, berilah saya, ayah ibu saya, saudara-saudara saya, juga seluruh orang yang terhubung dengan kami, termasuk Anda semua yang membaca tulisan ini, usia yang panjang dan bermanfaat, agar kami bisa menghadapi dan menyelesaiakan tantangan corona, dan kami bisa kembali berjumpa sebagai manusia biasa yang bisa saling menyapa, bersalaman, bahkan bisa memeluk ayah ibu kami.”

Doa malam hari raya idulfitri: selamat hari raya.

Sudah itu saja doa saya malam ini. Neraka dan surga sudah tak penting lagi untuk saya, itu urusan Tuhan. Karena saya tahu, saya tak bisa membayar untuk masuk surga atau pun membayar untuk menghindar neraka.

Yang saya bisa, hanya berusaha untuk terus menjadi manusia yang memberi manfaat kepada umat manusia lainnya dengan cara yang saya bisa.

Kabah tanpa peziarah: selamat hari raya dalam sunyi

Selamat hari raya idulfitri kepada anda semua yang merayakannya, dimana pun. Saya masih punya harapan yang tak bisa dipadamkan bahkan oleh hujan badai sekali pun. Harapan bahwa manusia sebagai spesies di muka bumi masih akan terus bertahan dan menjadi meramaiakan semesta dengan tingkah polah mereka.

The New normal, yang digagas oleh banyak negara dalam menghadapi corona, bisa menjadi cara sederhana untuk berusaha belajar normal setelah seluruh aktifitas dimatikan.

“Mamah kapikiran, kumaha lameun iye kebel?” kata mamah tadi.

“Enteu mah, bulan juni keudeng dei, mulai normal deui,” jawab saya. jawaban lebih tepatnya menghibur diri. Dan saya lanjutkan.

“Ke pas bisa balik, gana langsung balik mah,” ucapan saya bergetar. tapi saya tidak boleh mengis. Pantulan bening dari mata mamah sekilas terlihat, tentu saja ia pun merindukan kami berkumpul di tangerang, biasanya besok setelah salat ied, menjelang asar saya berangkat dari indramayu melintasi Jakarta, mudik ke Tangerang. Tahun ini tidak.

Oh, ya Tuhan, saya berdoa lagi, mohon panjangkanlah usia ayah ibu saya, ayah ibu mertua saya agar saya bisa berjumpa dengan mereka dan tertawa seperti biasanya mengisahkan hal-hal sederhana tentang banyak hal.

Sholat Idulfitri di Rumah: Selamat hari Raya #Beda

Untuk puteri saya Angelina Shiva Hany juga putera saya Ezra Nubala Gautama, tahun ini tidak mudik, besok kita salat ied di ruang baca.

“Kaka bisa ga salat ied dan khutbahnya?” tanya neng aan.

Tentang slat ied di rumah, saya tak menanggapinya serius. “Beda loh kak, dengan ceramah habis tarawih,” jelas aan.

Saya hanya tertawa.

Untuk adik saya yang bisa menemani mamah di Tangerang, Putra Bayu Awi, jaga mamah dan abah. Selamat hari raya di sana, dan pastikan tak ada orang asing atau orang luar daerah yang menyentuh mereka. Terima kasih sudah dan selalu ada di sana menemani abah mamah, juga kepada ipar dan ponakan2, masih bisa menghangatkan rumah mamah dan abah, di hari raya yang tak biasa ini.

Kepada Ema dan mamang di Indramayu, mungkin karena neng aan masih sibuk masak, kami belum menelponnya malam ini. Semoga semua sehat dan bersuka cita di sana.

Terima kasih kepada Fikin Aldevaro Aretha dan Puput Handayani, juga tanteu Neni Khusaeni Hamami dan om Mami, berada bersama ema dan mamang di Indramayu, salam hangat.

Owhhh, neng aan sedang video call dengan ema, memamerkan masakan lebaran kami di sini.

Sehat panjang umur untuk kita semua.

Saya Surgana dari www.taskertas.net mengucapkan selamat Hari Raya Idulfitri 2020. Terima kasih sudah membaca tulisan sangat panjang ini.

Leave a Reply