Work From Home antara harapan dan kenyataan. Ada banyak meme atau lelucon tentang kerja di rumah atau work from home, hal itu wajar bagi mereka yang terbiasa di didik sejak kecil dalam pola pendidikan industri.

Pernahkah anda memperhatikan, untuk pertama kalinya saat anda masuk Sekolah Dasar?

Jam enam pagi sudah bangun, dan memakai baju seragam merah putih, lalu berangkat ke sekolah yang akan dimulai tepat jam 08.00. Semua siswa dan siswi berbaris untuk masuk ke ruang kelas masing-masing dengan susunan duduk rapih menghadap tembok, yang terbentang di depanya papan tulis, dan seorang guru yang siap menjadi agen transfer pengetahuan.

Jam 11.30 istirahan besar, dimana seluruh siswa diperbolehkan buka bekal yang mereka bawa atau pergi ke kantin untuk makan siang, lalu masuk kelas lagi, mendengarkan, kemudian pulang dalam keadaan lelah, kehilangan syik dan suka cita di masa kanak-kanak. Bahkan sesmpainya di rumah, menanti Home Work setumpung.

Di era revolusi industri, model pendidikan di atas adalah satu-satunya cara menyiapkan orang-orang atau manusia-manusia siap masuk pabrik.

Mereka dilatih sejak usia dini, untuk bersedia datang pagi ke tempat kerja, lalu bekerja, dan persis seperti anak SD ilustrasi di atas, jam istirahat buka bekal atau makan di kantin, lalu masuk kerja lagi, dan pulang dalam keadaan lelah. Untuk dapat uang tambahan, kerja lembur. Persis untuk dapat nilai bagus, kerjakan PR.

Work from home

Work from Home adalah Mitos

Sebelum era #corona menyerbu di seluruh dunia, #covid19 memaksa kebiasaan manusia berubah seketika dalam waktu sesingkat-singkatnya. Menghancurkan tatanan model kerja era industri.

Tentu saja, bagi orang-orang kerja kantoran, datang pagi pulang sore atau malam, meninggalkan rumah, anak istri atau suami dan anak bahkan orang tua yang sepuh adalah hal yang wajar. Semua sudah mafhum, karena sudah diasah kebiasaan tersebut sejak usia belia, Sekolah Dasar.

Work From home atau kerja di rumah itu seperti mitos. Sangat mustahil memproduksi di rumah tanpa mesin seperti di pabrik-pabrik, kebiasaan kerja yang teratur tetiba runtuh menjadi kacau balau, jungkir balik.

Saya suka dengan tagline sebuah brand smartphoen china, Never Setle. Bagi saya, ketidak pastian itulah yang abadi. Lalu dimana kemapanan berada di era #corona? Hancur luluh lantak.

Bila cara berpikir dan cara kerja yang dilakukan masih mengunakan model berpikir dan bekerja era industri yang jelas-jelas sudah kadaluarsa.

Menurut Catatn di wikipedia, Revolusi Industri merupakan periode antara tahun 1750-1850 di mana terjadinya perubahan secara besar-besaran di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi serta memiliki dampak yang mendalam terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan budaya di dunia.

Mesin Uap Pemicu utama era industri

100 tahun dalam guncangan sistem sosial masyarakat, bukan waktu yang singkat. Dan kemapanan era industri bertahan bahkan hingga kemarin sebelum corona datang.

Bahwa ada sebagian besar masyarakat yang melek informasi dan internet sudah mulai memahami cara kerja baru, bahkan kerja tak harus pakai kantor. Kerja cukup dengan komputer atau smartphone yang terkoneksi dengan jaringan internet.

Saya secara pribadi, belajar Internet marketing sejak 12 tahun silam, dan bahkan hingga kini, masih terasa gagap menghadapi fakta, bahwa masyarakat luas terdampak oleh #corona. Mereka tidak bisa bekerja lagi.

Work from Home (WFH) antara Ide dan Fakta

Ide Kerja di rumah atau work from home, bagi saya, sudah tertanam sejak mulai masuk kuliah di tahun 1997, rasanya asyik juga masuk kelas hanya sesuai kebutuhan. tidak setiap hari dicekoki pengetahuan yang bahkan tidak saya butuhkan, dari SD hingga SMU.

Bahkan saat kuliah pun, ternyata ada banyak study yang tidak saya butuhkan, namun terpaksa tetap kudu diambil atas nama “Era Industri”. Ya, saya harus masuk kelas bila ingin lulus. Sama halnya harus masuk kerja bila ingin dapat bayaran di akhir bulan.

Saat Kuliah itulah, saay memiliki banyak waktu dan mencari tahu sendiri pengetahuan yang saya butuhkan untuk keterampilan hidup dan membangun penghidupan sendiri.

Saya menerjemah buku, menulis artikel, menerjemah novel dan cerpen. Dan terus berkarya di bidang tulis menulis dan penerbitan. Bahkan saya membangun penerbitan buku di tahun 2001 hingga akhirnya ditutup tahun 2014.

Salah satu Novel hasil Terjemahan saya tahun 1997, terbit tahun 2000

Ide kerja di rumah atau work from home, sempat saya rumuskan dalam sebuah buku tipis yang bila saja masih ada di pasaran dan anda membaca, pasti membuat anda sakit mata.

Tahun 2005, internet masih barang mewah, adanya di warung-warung dijual per jam, dengan tarif yang tidak murah. Di buku ini saya mencoba meneguhkan pikiran orang-orang yang mau keluar dari era pabrik, masuk ke dunia wirausaha, bekerja di rumah.

Work From Home adalah

Hari ini saat internet semakin cepat bisa diakses oleh nyaris seluruh manusia di muka bumi, sehingga lalu lintas invormasi sangat cepat. dan saya berdiri di ruang tamu saya sambil menatap rentetan permintaan Paper Bag yang saya tawakan menggunakan website www.taskertas.net.

Cara kerja bisnis di era informasi seperti anak kuliahan, bisa masuk kapan saja sesuai mata kuliah yang diambil, dan hanya mengerjakan yang dibutuhkan untuk lulus.

Kerja di rumah, bila masih dipahami dalam konstruksi era industri, yang terjadi adalah kekacauan. Mungkin dibutuhkan 100 tahun untuk kemapanan era informasi sebagai cara kerja umat manusia.

Desentralisasi menjadi pilihan satu-satunya dalam menyelamatkan umat manusia dari “kepunahan” akibat Covid19.

Coba anda perhatikan, orang-orang dilarang melintasi antar negara, bahkan antar RT saja sekarang kita kudu lewat portal yang dijaga cairan pembersih. benar-benar luar biasa.

Jadi kerja di rumah yang ideal itu seperti apa? Work from home yang paling ideal adalah mengikuti model era informasi.

MESIN UANG ONLINE

Saya sudah melakukannya sejak tahun 2010. Desentralisasi proses produksi, dan setiap orang boleh terlibat dengan standar khusus untuk bergerak sebagai bagian-bagian kecil produk yang tersusun dan menyatu menjadi produk global yang digunakan oleh seluruh orang di dunia.

Seperti Paper bag Export, Anda bisa memesannya dari produsen dari negara mana pun dan dikirim ke negara mana pun di dunia.

Bila Kerja di Rumah masih jadi pilihan

Bekerja vs Mencipta

Work from home saya memaknainya sebagai proses mencipta di rumah. Ya, yang di maksud rumah di sini, tidak selalu sebuah kotak yang ada kamar-kamar dan ruang yang ada keluarga di dalamnya. Rumah adalah tempat yang diidealkan sebagai tempat yang nyaman dan asyik untuk proses hidup dan menjalani kehidupan.

demikian juga dengan kata “kerja” ia adalah sebuah proses mencipta untuk mewujudkan suatu cita-cita seorang manusia, mungkin Anda.

Era informasi yang kini anda nikmati, dan paksaan akibat #covid19 agar anda tidak keluar rumah, namun anda juga dituntut untuk tetap bisa mengalirkan arus kas ke rekening anda. Apa yang perlu anda lakukan?

“Kak, apa lagi yang bisa kita lakukan untuk menghasilkan uang?” tanya neng Aan, istri saya. Work from home yang saya maknai sebagai mencipta, kini dengan seluruh kemampuan yang saya miliki, proses kreatif menciptakan aplikasi yang akan menggenerate pengunjung dan menghasilkan arus kas dari iklan dan penjualan paper bag terus dikembangkan.

Saya juga sedang mengembangkan Pemasaran hasil kreasi petani, yaitu gula aren, baik dalam bentuk gula aren cetak atau pun gula semut aren. kesempatan bagi Anda yang ingin bekerja di rumah memanfaatkan arus informasi untuk mendistribusikan produk atau pun jasa secara online.

Bagi Anda yang tertarik Work From Home cara saya, silahkan gabung di Grup Whatapp terbatas link join di bawah ini:

https://bit.ly/2Rz6kjx

Semoga ada manfaatnya.

Leave a Reply